Berita Penelitian
E-LEADERSHIP : KEPEMIMPINAN DI ERA DIGITAL
Friday, 13 January 2023
Febri Yoga Sapta Raharjo
Perkembangan teknologi informasi yang sangat masif saat ini sudah tidak dapat dicegah dan telah mengubah hampir setiap lini kehidupan, baik di dalam kehidupan masyarakat maupun dalam organisasi. Telah menjadi suatu keniscayaan bahwa organisasi yang maju adalah mereka yang mampu beradaptasi terhadap perubahan. Pesatnya perkembangan tersebut menuntut penyesuaian perubahan yang sangat cepat dan dibutuhkan kepemimpinan yang mampu mengawal perubahan dan pemanfaatan teknologi dengan tepat di berbagai sektor (Kumolo, 2021).
Perubahan yang sangat masif tersebut tentu akan mengubah pola bisnis dalam organisasi yang menyeluruh termasuk pada tatanan manajemen sumber daya manusia serta terdapat perubahan praktik organisasi yang menyertainya (Manresa, Bikfalvi, & Simon, 2021). Pemimpin di era digital harus mampu mengubah mindset atau pola pikir tiap anggotanya yang ada di dalam organisasi untuk mendorong terwujudnya budaya digital organisasi. Seorang pemimpin digital memiliki kemampuan untuk menginspirasi anggotanya untuk selalu berinovasi dan menemukan serta mempertahankan ide-ide (Maryati & Siregar, 2022).
Organisasi harus memiliki kesiapan untuk beradaptasi dalam menyambut transformasi digital (Hadiono, Murti, & Nur Santi, 2021). Kebiasaan lama menggunakan perangkat analog, printer, dan kertas, serta presensi manual, seiring waktu berubah menjadi serba digital. Mau tidak mau, setiap anggota yang ada di dalam organisasi harus dapat memahami dan mengaplikasikan perangkat digital tersebut. Bagi sebagian orang yang 'melek' digital, tentu digitalisasi merupakan suatu hal yang mudah diterapkan menjadi kebiasaan di kantor. Namun bagi sebagian orang lainnya, digitalisasi bisa menjadi momok menakutkan yang sulit untuk diikuti. Peralihan tersebut perlu didukung dengan lingkungan kerja yang memadai baik dari segi alat maupun dari sisi penggunanya. Digitalisasi adalah keniscayaan yang tidak bisa ditolak kehadirannya, sehingga perlu perhatian khusus dari setiap pemimpin dalam organisasi untuk memberi solusi bagaimana menerapkan budaya digital demi meningkatkan keunggulan kompetitif suatu organisasi. Digitalisasi tidak dapat dilakukan tanpa melakukan transformasi praktik organisasi dan budaya di dalamnya (Duerr, Holotiuk, & Beimborn, 2018).
Menurut Priyantono Rudito, dalam buku berjudul “Digital Mastery : Membangun Kepemimpinan Digital Untuk Memenangkan Era Disrupsi”, Transformasi digital tidak hanya sekadar masalah teknologi, namun mencakup transformasi organisasi yang menyeluruh dalam perubahan aspek-aspek krusial lain seperti strategi, proses, sumber daya manusia, budaya, hingga kepemimpinan. Transformasi tersebut membutuhkan visi (direction) dan melibatkan seluruh anggota di semua level organisasi, tata kelola (governance) yang solid dengan menyelaraskan sistem, proses, data, teknologi, dan karyawan yang bergerak dalam satu arah menuju visi sehingga terwujud hubungan harmonis dan sinergis antara orang teknis (IT) dan orang bisnis sehingga transformasi betul-betul menghasilkan nilai (value) (Rudito, 2017).
Kepemimpinan digital, disebut juga e-Leadership, adalah kepemimpinan yang dihasilkan dari perkembangan lingkungan berbasis elektronik atau e-Environment. Istilah e-leadership atau kepemimpinan elektronik diperkenalkan oleh Avolio, Kahai, dan Dodge melalui artikel ilmiah berjudul E-leadership: Implications for Theory, Research, and Practice yang terbit di jurnal ilmiah Leadership Quarterly tahun 2000. Menurut artikel yang menjadi referensi utama para peneliti tentang kepemimpinan digital tersebut, e-leadership terjadi dalam konteks lingkungan elektronik di mana pekerjaan dilakukan dengan bantuan teknologi informasi, khususnya Internet (Munir, 2020).
Ada empat karakteristik yang membedakan antara kepemimpinan reguler dan e-Leadership. Pertama, mengacu pada keterampilan komunikasi, di mana para pemimpin digital harus mampu berkomunikasi secara efektif menggunakan media sosial untuk tetap terhubung dengan anggota di dalam dan di luar organisasi. Kedua, pemimpin digital harus mampu berpikir dan berkolaborasi melintasi batas waktu, ruang, dan budaya, dimana pemantauan dan interaksi bisa dilakukan dimana saja. Ketiga, pemimpin digital juga memiliki kemampuan untuk secara efektif melacak dan mengelola pekerjaan mereka secara virtual. Karakteristik keempat yang membedakan pemimpin tradisional dengan pemimpin digital adalah kemampuan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan teknologi. Pesatnya perkembangan teknologi menuntut adaptasi terhadap perubahan yang cepat agar tujuan organisasi tetap dapat tercapai.
Adaptasi terhadap perubahan teknologi digital berlangsung dalam empat tahap (Kemenpanrb, 2021). Pertama, kesadaran atau awareness untuk melakukan perubahan dengan memahami teknologi. Langkah kedua, merumuskan strategi dan rencana aksi terkait teknologi yang dapat diterapkan pada proses transformasi digital. Ketiga, memilih sumber daya manusia yang tepat untuk berkembang dalam perubahan teknologi yang dilanjutkan dengan perubahan budaya kerja berbasis teknologi (budaya digital). Langkah keempat adalah transformasi digital yang dapat dilakukan secara berkelanjutan dengan mempertahankan budaya inovasi dan bekerja sama dengan komunitas digital.

Oleh: Febri Yoga Sapta Raharjo
Mahasiswa Magister Manajemen, Pascasarjana
Universitas Pancasakti Tegal
 

Referensi

Avolio, Kahai, & Dodge. (2020). E-leadership: Implications for Theory, Research, and Practice. Leadership Quarterly.
Duerr, S., Holotiuk, F., & Beimborn, D. (2018). What is Digital Organizational Culture? Insights from Exploratory Case Studies. Proceedings of the 51st Hawaii International Conference on System Sciences (pp. 5126-5135). Hawaii: HICSS.
Hadiono, K., Murti, H., & Nur Santi, R. (2021). Transformasi Digital Di Masa Pandemi Covid-19. Proceeding SENDIU.
Kemenpanrb. (2021, September 13). Pentingnya Digital Leadership dalam Transformasi Teknologi. Retrieved from Menpan.go.id: https://www.menpan.go.id/site/berita-terkini/pentingnya-digital-leadership-dalam-transformasi-teknologi
DalamKumolo, T. (2021, September 13). Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi - Republik Indonesia. Retrieved from Pentingnya 'Digital Leadership' dalam Transformasi Teknologi: https://www.menpan.go.id/site/berita-terkini/pentingnya-digital-leadership-dalam-transformasi-teknologi
Manresa, A., Bikfalvi, A., & Simon, A. (2021). Investigating the impact of new technologies and organizational practices on operational performance: evidence from Spanish manufacturing companies. Central European Journal of Operations Research, 1317–1327.
Maryati, S., & Siregar, M. I. (2022, Oktober 4). Kepemimpinan Digital Dalam Meningkatkan Kinerja Organisasi Peran Teknologi Informasi dan Komunikasi. Owner : Riset & Jurnal Akuntansi, 6, 3616-3624.
Munir, N. S. (2020, Februari 12). Kepemimpinan di Era Digital (e-leadership). Retrieved from SWA Online: https://swa.co.id/swa/my-article/kepemimpinan-di-era-digital-e-leadership
Rudito, P. (2017). Digital Mastery : Membangun Kepemimpinan Digital Untuk Memenangkan Era Disrupsi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Agenda Terbaru
05
Jul
Online Solo Vocal Competititon
Saturday, 05 July 2025
05
Jul
Online Bussiness Plan
Saturday, 05 July 2025
05
Jul
Online Vlog Competition
Saturday, 05 July 2025
Logo UPS
Universitas Pancasakti (UPS) Tegal adalah salah satu perguruan tinggi swasta di Jawa Tengah yang berkedudukan di Kota Tegal. Berdiri pada tanggal 1 Maret 1980 dengan harapan dapat menjadi Benteng Pancasila di wilayah Pantura khususnya Eks Keresidenan Pekalongan.
Informasi Kontak
Alamat
01, Jl. Halmahera No.KM, Mintaragen, Kec. Tegal Tim., Kota Tegal, Jawa Tengah 52121
Kontak
Telp : +62 2833 51082
Email : Info@upstegal.ac.id
Sosial Media
© 2024 Universitas Pancasakti Tegal. All Rights Reserved