WONOSOBO — Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Pancasakti
(UPS) Tegal menggelar pendampingan penguatan digitalisasi desa di Desa Rimpak,
Kecamatan Sapuran, Wonosobo. Acara ini merupakan bagian dari strategi nasional
untuk mempercepat pembangunan, meningkatkan ekonomi lokal, dan memberdayakan
masyarakat desa.
Rektor UPS Tegal, Prof. Dr. Taufiqulloh, M.Hum dan tim Kamis
(21 Agustus 2025), pihaknya menekankan pentingnya adopsi teknologi digital
untuk kemajuan desa.
Prof. Taufiqulloh menjelaskan bahwa digitalisasi desa adalah
transformasi komprehensif yang mengintegrasikan teknologi ke dalam berbagai
aspek kehidupan, termasuk tata kelola, ekonomi, dan budaya. Menurutnya,
pendekatan ini menciptakan desa yang tangguh dan adaptif terhadap perubahan
global.
"Konsep digitalisasi bukan hanya tentang teknologi,
tetapi juga tentang membangun pondasi untuk desa yang mandiri dan berdaya
saing," ujarnya.
Ada tiga sektor strategis yang menjadi fokus utama dalam
implementasi digitalisasi:
• UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah): Peningkatan
kapasitas pelaku UMKM melalui pemanfaatan platform digital untuk promosi dan
distribusi produk.
• Pariwisata: Pengembangan destinasi wisata desa dengan
sistem reservasi online, pemetaan digital, dan promosi melalui media sosial.
• Budaya: Pelestarian dan promosi kekayaan budaya lokal
melalui dokumentasi dan diseminasi digital.
Lebih lanjut Prof. Taufiqulloh menyoroti berbagai inovasi
ekonomi yang dapat dihasilkan, seperti "Budidaya Berbasis Digital"
yang memanfaatkan teknologi untuk monitoring suhu, kelembaban, dan pengelolaan
stok. Ia juga menekankan bahwa digitalisasi membawa dampak ekonomi yang
signifikan, yaitu diversifikasi usaha, peningkatan produktivitas, dan akses
pasar yang lebih luas.
Selain itu, digitalisasi juga memiliki dampak sosial dan
budaya yang positif, meliputi:
• Peningkatan Literasi Digital: Mendorong masyarakat lebih
melek teknologi.
• Penguatan Identitas Lokal: Mendokumentasikan dan
mempromosikan kearifan lokal.
• Peningkatan Partisipasi: Memfasilitasi keterlibatan
masyarakat dalam pengambilan keputusan.
Tentu, implementasi digitalisasi di desa tidak lepas dari
tantangan. Prof. Taufiqulloh mengidentifikasi beberapa kendala utama, seperti
keterbatasan infrastruktur internet, rendahnya literasi digital, dan
keterbatasan SDM dan modal.
"Namun, tantangan ini dapat diatasi melalui pendekatan
yang tepat," kata Prof. Taufiqulloh.
Solusi yang ditawarkan meliputi:
• Pelatihan dan Pendampingan: Peningkatan kapasitas SDM
desa.
• Kerja Sama Stakeholder: Kolaborasi antara pemerintah,
swasta, akademisi, dan masyarakat.
• Dukungan Regulasi: Pengembangan kebijakan yang mendukung
proses digitalisasi.
Sebagai penutup, ia menegaskan bahwa digitalisasi memiliki
peran penting dalam memperkuat ekonomi, sosial, dan budaya, serta memberdayakan
masyarakat melalui pemanfaatan teknologi yang tepat guna dan inklusif.